SEJARAH PKBM INDONESIA – CLC DAN KOMINKAN JEPANG

salah satu contoh kominkan di Jepang Asozu Kominkan
Pusat kegitan belajar masyarakat (PKBM) atau dalam bahasa Inggrisnya adalah  Community Learning Center
Ketika Jepang  porak poranda di bom atom oleh Amerika dalam perang dunia ke dua, Kaisar dan pemerintah Jepang langsung membuat Kominkan dan mendorong seluruh masyarakat untuk belajar di Kominkan.  Jepang tidak memiliki banyak sekolah karena hancur di bom saat itu.  Dengan kerja keras dan semangat belajar di Kominkan itulah akhirnya bangsa Jepang bangkit dan menjadi bangsa yang maju seperti saat ini,
kaisar Jepang Hirohito yang menghargai guru
Pada tahun 1945, ketika Jepang hancur lebur oleh bom atom yang dijatuhkan sekutu di Hirosyima dan Nagasaki, Kaisar Jepang saat itu, Hirohito (bertakhta 1926-1989) mengemukakan sebuah pertanyaan yang lebih mengguncang dari ledakan bom atom.
Saat itu, Kaisar Hirohito bertanya singkat kepada para pembantu dan menterinya yang menghadap untuk melaporkan tentang banyaknya rakyat Jepang yang mati dan sekarat karena terkena radiasi bom atom, pertanyaan yang diajukan Hirohito adalah, “Ada Berapa guru yang hidup?”
“Mari kita benahi pendidikan kita melalui guru-guru yang kita punyai dan masih hidup. Melalui kerja keras kita, terutama guru-guru, saya yakin Jepang akan bangkit kembali, bahkan akan lebih hebat dari kemampuan kita sebelum perang terjadi.”
“Selama masih banyak guru yang hidup, saya yakin masih ada kesempatan bagi bangsa kita untuk  bangkit dari kekalahan dan mengejar ketertinggalan!” Hirohito – Kaisar Jepang
Kominkan di Jepang pada tahun 1946, saat mulai digalakkan. Kominkan di Jepang memiliki peran yang sangat besar dalam sejarah kemajuan bangsa Jepang.  begitu juga di Indonesia Pusat Kegiatan Belajar Maysyarakat memiliki peran yang sangat penting dalam pemberdayaan Masayarakat itu tertuang dalam sistem Pendidikan Nasional Republik Indonesia.
PKBM MNC Tangsel
Untuk pengembangan PKBM di Indonesia  tak ada salahnya kita belajar dari KOMINKAN,, berikut info tentang KOMINKAN 🙂
Pendidikan Luar Sekolah di Indonesia = Pendidikan Sosial (Social Education) di Jepang yang dikenal dengan istilah shakai kyoiku.
Jika Indonesia mempunyai PKBM (Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat) sebagai institusi pendidikan Non Formal yang terkait dengan pendidikan masyarakat yang tersebar diseluruh pelosok yang bisa dikatakan sebagai Pusat Pembelajaran Masyarakat atau Community Learning Centre (CLC) maka Jepang mempunyai KOMINKAN atau artinya “Citizens Public Hall”.
PKBM MNC kota Tangerang Selatan Banten
Kominkan pada saat ini kurang menekankan pada pendidikan dasar masyarakat dan pelatihan kejuruan. Implementasi program pendidikan sosial di Jepang lebih menekankan pada hal-hal yang berhubungan dengan berbagai budaya, gaya hidup (lifestyle), olah raga dan rekreasi, serta kegiatan pembelajaran masyarakat lainnya.
PKBM MNC Paket C IPA
Yang menjadi landasan adanya kominkan di Jepang yaitu adanya Undang-undang tentang pendidikan sosial sebagai dasar sistem pengembangan pendidikan sosial disahkan pada tahun 1949 menekankan pada dua asas pokok, yaitu:
Paket B (SMP) PKBM MNC
Menjamin hak-hak setiap warga negara untuk belajar, khususnya mereka yang kurang mampu untuk bersekolah, dan
Memajukan demokrasi yang partisipatif kepada masyarakat melalui proses pembelajaran di tengah-tengah lingkungan masyarakat.
Kominkan berdiri satu tahun setelah berakhirnya perang Dunia ke II tepatnya didirikan sekitar tahun 1946 atau lebih tua 4 tahun dari Undang-Undang Pendidikan Sosial.
Terdapat 2 model kominkan yang ada di bawah pengawasan social education administration,  yaitu  urban Kominkan dan rural Kominkan. Kedua Kominkan ini seringkali disebut dengan legal Kominkan karena pengelolaannya dibawah aturan administrasi pemerintah Kota.
Namun ada juga Kominkan yang didirikan oleh masyarakat, asosiasi (organisasi) sukarela atau lembaga independent (non pemerintah). Kominkan jenis ini dikenal dengan autonomous Kominkan (Kominkan mandiri).
Peserta didik kominkan tidak dipunggut biaya (gratis) selama persyaratan kegiatan kominkan dipenuhi. Untuk honor atau gaji staf kominkan milik pemerintah ditanggung oleh pemerintah lokal sedangkan untuk Autonomous Kominkan (kominkan mandiri) honor dan gaji staf tidak dianggarkan secara khusus karena sifat volunterisme atau hanya bersifat sukarela.
Terdapat 76.883 kominkan mandiri dan 18.000 legal kominkan (data tahun 2002) dan penggagas advokasi Kominkan adalah Teranaka Sakuo.
Referensi: http://file.upi.edu/Direktori/FIP/JUR._PEND._LUAR_SEKOLAH/196111091987031001-MUSTOFA_KAMIL/Kominkan_revisi.pdf
Please follow and like us:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *